Kritik Mushola
Musholah adalah sebuah tempat yang secara khusus didirikan untuk umat Islam yang menunaikan ibadah sholat. Bedanya dengan masjid, mushola tidak perlu dilakukan adzan di dalamnya dan tidak difungsikan sebagai tempat ceramah sehingga tidak ada khutbah jumat sekaligus jumatan di dalamnya. Meski demikian, mushola harus memiliki fungsi-fungsi yang mendukung ibadah sholat secara sempuna dan aman. Sempurna maksudnya disini ialah kekhusyuan sedangkan aman maksudnya disini ialah tereminilasi semaksimal mungkin penyebab-penyebab batalnya sholat.
Hilangnya atau minimnya unsur kesempurnaan pada mushola di
2. Dari segi estetika, mushola ini tidak memenuhinya. Terlihat kolom besar tiba-tiba muncul tanpa ada pengolahan sehingga mengurangi unsur keestetikaan sebab tidak unity. selain itu, kolom besar ini menjadikan ada bagian ruang yang terbuang percuma
Adapun hilangnya unsur keamanan ialah
-
Tanpa adanya hijab dan pintu menyatu laki-laki perempuan dan sempit menjadikan kemungkinan tersentuhnya kulit laki-laki dan perempuan yang mengakibatkan batalnya wudhu sehingga yang besangkutan harus wudhu lagi. Kalo yang akan sholat kebetulan sepi mungkin hal ini tidak terjadi, tapi bagaimana jika saat itu kebetulan yang sholat banyak.
- Sulit berjamaah karena sempitnya ruangan. Apalagi, kalau kebetulan ada perempuan yang ikut sholat, jelas space untuk berjamaah habis. Tentu hal ini menjadikan bagi yang inginkan amal berkualitas hanya menjadi angan.
- Tersingkapnya aurat wanita saat berwudhu. Hal ini dikarenakan tempat wudhu laki-laki dan perempuan menjadi satu. Padahal, wanita harus meyingkap sebagian auratnya yakni lengan, kaki dan rambut karena memang itulah anggota tubuh yang akan dibasuh. Maka, desain wudhu laki dan perempuan yang menyatu ini adalah desain yang paling fatal kesalahannya.
- Mushola harus melihat space sholat berjamaah. Space sholat yang nyaman membutuhkan minimal 50×120 cm (menurut pengalaman) @ orang. Kepadatan orang-orang yang sholat di mushola mall kurang lebih 15 orang. Maka space mushola minimal 750 x 1800 cm. Itu jika musholanya khusus laki-laki atau khusus perempuan. Jika mushola digabungkan antara yang laki-laki dengan perempuan maka tinggal dikali dua yakni 1500 x 3600 cm. Meski digabungkan, tetap harus ada hijab dan tempat wudhu terpisah antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Supaya aurat perempuan tidak terlihat oleh laki-laki ketika berwudhu.
- Unsur keestetikan harus dipertimbangkan juga karena hal ini juga berpengaruh kepada kekhusyuan juga.
- Jangan menempatkan mushola seperti barang yang harus disembunyikan tapi justru diekspose. Hal ini untuk kepentingan pengingat umat Islam untuk melakukan ibadah sholat.
July 14th, 2008 at 1:38 am
Hidup selalu ada dalam persaingan. Tuhan sudah menjelaskan itu dalam Al-Baqarah. Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan satu bagian dengan yang lainnya akan saling bersaing sampai satu saat tiba kehancuran.
Maka dengan berbagai upaya menciptakan berbagai cara untuk meraih kemenangan di antara yang lain. Dalam segala hal: ekonomi, politik, budaya dll.
Termasuk dalam arsitektur musolla sebagaimana yang ditulis di atas. Untuk menciptakan musola yang sesuai dengan kriteria Islam maka “hai para muslim” bergabunglah dalam kekuatan dan buatlah mall sebagaimana yang diimpikan Islam. Bordieu menulis tentang konsep STRUKTURASI dalam ranah budaya. Bahwa setiap karya budaya selalu menjelma dalam dialektika order dan agent. Di dalamnya ada hegemoni yang saling bertikai.. Termasuk dalam arsitektur.
Saya menulis tentang surau dalam keluarga madura…bagaimana ia berperan dalam satuan komunitas.
Benar, kita tidak akan mampu mewujudkan impian kita bila kita tidak bersatu. Jika kebatilan bisa mengalahkan kebenaran karena bersatu dalam sebuah sistem persatuan yang kokoh, maka kebenaran pun mampu mengalahkan kebatilan dengan persatuan dalam sebuah sistem yang kokoh. Persatuan itu berbentuk sebuah organisasi. Maka, marilah kita membuat wadah bagi para arsitektur muslim atau bergabung dengan wadah yang sudah ada (seperti archirevo) sambil mengajak yang lain untuk bergabung. Dengan begitu, suara Islam termasuk dalam ranah arsitektur mampu bersuara keras dan mengubah keadaanpenulis web archirevo
August 24th, 2008 at 2:53 am
wadah perlu ada yang mengikat. Di zaman Rasulullah SAW, RAsulullah SAW-lah pengikat wadah itu.
Di akhir zaman yang orang Islam sendiri sudah jahil kepada agamanya, kita perlu mencari pemimpin yang mewarisi Rasulullah SAW. Insya Allah, dia akan menunjukkan kita bagaimana jalan keluar dari berbagai bentuk penjajahan ini.
Pemilik Web
Memang benar salah satu pengikatnya sebuah wadah adalah sang pemimpin yang di zaman Rasulullah adalah Rasulullah sendiri. Hanya saja, janganlah kita melupakan bahwasanya wadah pun juga harus baik - baca Islami - karena jika tidak maka sang pemimpin akan mengikat sebuah wadah dengan tidak baik juga. Kita saksikan bahwa Rasulullah barulah mau menjadi pemimpin ketika masyarakatnya mau diatur secara total dalam sebuah wadah pemerintahan Islami yakni pada fase Madinah. Maka, sebuah wadah yang islami yakni sistem khilafah tetaplah dibutuhkan selain pemimpinnya- yakni khalifah - juga mumpuni.
Begitupun seorang arsitekpun juga terikat dengan sistem kontrak dimana ia jalaninya.mushola yang tersingkirkan dari perhitungan dalam perancangan seringkali bukan dari sang perancangnya, namun memang dari sang pemilik proyek - baca client - yang menghendaki demikian. Maka, sebuah perancangan akan memenuhi standar Islam, tidak hanya membutuhkan sang arsitek yang berwawasan Islam tapi juga sistem kontrak yang berstandar Islam.
Jazakallah Atas komentarnya
September 25th, 2008 at 10:52 pm
Wah sayang sekali ya. Kalau shalat sudah tidak beres, niscaya segala urusan lain tidak beres juga.
November 30th, 2008 at 2:25 am
musola…
bagian bangunan yang selalu luput dari ide rancangan. musola seakan cuma tempat sisa. deket kamar mandi, deket genset, pojokan parkiran…
se-keren apapun bangunan itu, walaupun perancangnya adalah seorang mulsim, tapi musola seakan ngga jadi perhatian. dikampus saya pun (walau deket mannarul ilmi ITS) musholanya adalah tempat sisa, padahal dosen2 saya yang notabene arsitek, sebagian besar ya muslim.
saya kok jadi sedih.sudah se sekuler apa pikiran sih para arsitek muslim sekarang…?