Jangan lihat siapa yang bicara, lihatlah apa yang dibawa oleh pemahamannya.

Archirevo

Arsitektur Si Petanda

October 11th, 2009 by Rohman


Seorang pengembara di alam bebas tatkala melihat kepulan asap sedikit di kejauhan maka ia memperkirakan adanya kehidupan di sekitarnya. Asosiasinya mengatakan bahwa kepulan asap bersumber dari adanya api. Api tersebut bias berasal dari kejadian alami, petir yang menyambar pohon kemudian menimbulkan kebakaran semak-semak, misalnya, atau dari aktivitas kehidupan manusia: berdiang, memasak, dan sebagainya. Asap bagi si pengembara merupakan sebuah petanda akan adanya sesuatu di balik gejala itu sendiri. Seseorang pengguna jalan raya akan berhenti apabila melihat lampu merah pada sebuah trafficlight sedang menyala. Atau si pengendara akan berjalan dengan hati-hati bila melihat lampu kuning di bagian belakang kendaraan yang berjalan di depannya menyala berkedip. Denting bel pada pintu rumah menandai bahwa ada seseorang di depan yang ingin bertemu dengan penghuni rumah. Bunyi bel yang disusul turunnya palang pintu pada lintasan kereta api menandai sebentar lagi kendaraan tersebut akan lewat. Kumandang suara azan menandai bahwa waktu shalat telah tiba dan ketika iqamah dilantunkan mengisyaratkan ibadah berjamaah akan segera dimulai. Asap, lampu lalu lintas di persimpangan, lampu pada kendaraan, hingga suara iqamah dari masjid, semua merupakan petanda. Isyarat (sign) merupakan bagian dari system symbol. Dengan sendirinya kedudukannya tidak setinggi atau sekuat symbol. Meskipun demikian, sebagai  keluarga symbol, isyarat memenuhi keinginan untuk menyampaikan sesuatu dengan cara tidak langsung atau tersembunyi dengan hanya memberi suatu tanda


engan melihat isyarat seseorang bias menerima berita yang ingin disampaikan oleh si empunya pesan. Dengan demikian, maka sesuai kadarnya, isyarat memuat kode tertentu yang telah menjadi kesepakatan bersama di dalam sebuah komunitas. Dengan demikian, maka sesuai kadarnya, isyarat memuat kode tertentu yang telah menjadi kesepakatan bersama di dalam sebuah komunitas. Demikianlah arsitektur. Pada kedudukannya ia dapat menjadi petanda.

Lewat sebuah karya arsitektur seseorang pemerhati dapat menyimak pesan yang ada di balik susunan gugus material tersebut. Surau kecil di sebuah dusun akan menandai adanya kehidupan Islam di tempat itu. Kelenteng di tengah perkampungan mengisyaratkan bahwa ada kehidupan etnik Cina di sekitarnya. Melihat Piramida di Mesir, dapat diperoleh bayangan gambar kekuasaan Fir’aun. Melihat Kolosium di Roma dapat diproyeksikan gambar kehidupan masyarakat Romawi di kala itu. Menyaksikan kemegahan Masjid Agung Kordoba dengan fenomena keberadaan sebuah kapel gereja di tengahnya dapat dipelajari perjalanan jatuh bangunnya Islam di Spanyol. Demikian pula bila menyimak tampilan Hagia Sophia di Istanbul akan dapat didapat pelajaran tentang keruntuhan Byzantium Roma dan munculnya kekuatan Islam di bawah wangsa Utsmani di Turki.

Gugusan kuil-kuil pemujaan dewa di puncak bukit Acropolis di Yunani, mengantar penghormatan sampai kepada Gaia, Dewi Bumi. Kuil Parthenon dibangun bukan hanya untuk menandai keberhasilan penduduk Athena menangkis serbuan bangsa Persia. Penempatan patung Dewi Pallas Athena sebagai pelindung kota adalah sekaligus juga menandai betapa kebijakan dan kesantunan lebih berharga ketimbang keperkasaan raga. Dalam mitologi Yunani, Dew Pallsa Athena memenangkan lomba merebut hati mesyarakatnya dengan cara mengajari mereka menanam dan memberdayakan pohon zaitu. Sementara pesaingnya, Poseidon berupaya menaklukan hati masyarakat dengan menunjukkan gemuruh dahsyatnya kekuatan laut yang dimilikinya.Pallas Athena adalah representasi kebijakan, kelembutan, dan ketekunan yang bersesuaian dengan karakter penduduk kota Athena yang dikenal cinta kebajikan dan kedamaian.

Arsitektur Yunani, sebagaiaman diwakili oleh sosok kuil Parthenon melambangkan penghormatan tinggi pada kepekaan rasa dan kecerdasan. Masyarakat Athena dikenang peradaban dengan kehadiran Komunitas Athena, kelompok para pujangga cendekia dengan tokoh sentralnya Plato dan Phytagoras, yang merumuskan kaidah falsafah, termasuk prinsip keindahan. Parthenon adalah gubahan yang menggabungkan rasa keindahan dan perhitungan akal. Panjang, lebar, dan tinggi kuil diperhitungkan dengan skala perbandingan. Undakan, garis tengah ukuran tiang, dan juga jarak antar tiang terkoordinasi dalam perbandingan 4:9.

Masa pembangunannya adalah masa ketika seorang politisi Kimon, Pericles, atau arsitek Kallikrates, Ictinus, pematung Phidias memperoleh penghargaan sama tinggi dalam kedudukannya sebagai bagian masyarakatnya.

Athena dan Acropolis

diambil dari (Arsitektur Masjid - Ir. Achmad Fanani)

Filed under Vitamin Arsitek having

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.