Tidak ada pluralisme
Dalam perkuliahan Teori Arsitektur, seorang dosen yang telah bergelar professor pernah menjelaskan pengetahuan berkenaan Konteks di dalam Arsitektur. Sekedar menyegarkan ingatan, yang dimaksud dengan Konteks adalah ‘lingkungan’ yang dijadikan tempat bagi/dalam membincangkan sesuatu pandangan/pemikiran. Konteks bisa memiliki penafsiran yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh banyak faktor, yang semuanya benar. Sebagai contoh: arsitektur, bisa bermakna wadah atas kegiatan manusia, jelek tapi bagus, dan sebagainya. Semua pengertian tentang arsitektur di atas adalah benar, tidak ada yang salah. Agar pembahasan tentang konteks ini lebih mudah dipahami, maka profesor tersebut mengambil beberapa studi kasus yang beliau rasa mewakili Konteks ini dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya: ponari, soal ujian, dan dosa.
|
|
|


Yang perlu kita soroti adalah studi kasus yang ketiga, yaitu tentang penghapusan dosa. Hal ini karena studi kasus pertama dan studi kasus kedua sangatlah berbeda dengan studi kasus ketiga bagi orang-orang yang mau sedikit untuk berpikir mendalam. Perbedaannya amatlah jelas bahwa kasus yang pertama dan kedua dapat kita saksikan faktanya sedangkan kasus yang ketiga tidak dapat kita saksikan faktanya alias ghaib.
Segala hal yang ghaib tidaklah dapat kita saksikan dan rasakan keberadaannya dengan panca indera kita. Dan karena tidak bisa kita indera faktanya maka tidaklah mungkin manusia – meski memiliki akal – bisa berpikir berkenaan perihal ghaib, salah satunya dosa. Kita hanya bisa memahami sesuatu yang ghaib itu dari sesuatu yang mampu melihat hakikat ghaib itu. Siapakah DIA? Tentulah Tuhan lah yang Maha Tahu yang mampu melihat dan memahami hakikat ghaib itu.
Konsep Ketuhanan
Ketika kita berbicara persoalan Tuhan, maka pasti akan terkait kuat dengan persoalan agama. Masing-masing agama pastilah meyakini agamanyalah yang paling benar. Tapi coba kita mencoba merenungi konsep ketuhanan yang ada, lalu coba kita bandingkan manakah konsep ketuhanan yang paling benar dan agama apakah yang memiliki konsep semacam itu. Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Peraturan hidup dalam Islam pernah menyampaikan bahwa konsep ketuhanan yang ada di dunia ini bermuara pada tiga macam. Pertama,Tuhan diciptakan oleh yang lain. Kedua, Tuhan menciptakan dirinya sendiri. Ketiga, Tuhan tidak berawal dan tidak berakhir.
Konsep pertama memiliki kecacatan sebab hal itu tidak mungkin karena segala yang diciptakan adalah makhluk. Dan segala makhluk pastilah bersifat terbatas. Sifat semacam ini tidaklah mungkin dimiliki oleh Tuhan yang Maha Tak Terbatas. Konsep kedua juga memilki kecacatan sebab tidaklah mungkin sifat Tuhan yang Maha Tak Terbatas dan sifat makhluk yang terbatas – yang saling bertolak belakang – dimiliki secara bersamaan. Dengan demikian, hanya konsep ketiga sajalah yang benar, yakni Tidak berawal tidak berakhir, tidak beranak dan diperanakkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Al Ikhlas: 1-4)
Konsep ketiga inilah yang benar, dan hanya satu agama yang memiliki konsep ini, yakni agama Islam. Dengan demikian, hanya agama Islam sajalah yang pantas secara rasional dalam menjelaskan tentang apa itu dosa dan seperti apakah penghapusan dosa itu.
Apa artinya?
Mungkin sebagian kalangan berpikiran “ Ngapain juga mikir jauh-jauh sampe nyangkut Tuhan-tuhan segala? Bikin konflik SARA aja nanti!” ataupun nada semacamnya. Menurut kami justru ini amatlah penting untuk diluruskan sebab pemikiran bahwa pemahaman semua agama terhadap dosa adalah benar akan membentuk cara berpikir pluralism baik langsung maupun tak langsung. Pola pikir semacam inilah yang akan merusak cara berpikir umat Islam. Hal ini karena tidak ada pluralism (paham bahwa semua agama adalah benar) dalam Islam. Alam semesta, manusia, dan kehidupan adalah makhluk ciptaan Allah SWT
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya (QS. Ali-Imran:19).
Pemahaman ini WAJIB kita jaga, tidak boleh bergeser, karena menyangkut masalah aqidah umat Islam. Jadi yang dapat dijadikan studi kasus hanya kasus 1 dan 2, sedangkan kasus 3 tidak bisa dijadikan studi kasus.
Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (QS. Ar-Ra’d11).
Dengan kejadian semacam ini, hendaklah kita harus mewaspadai segala tindakan misionaris meski begitu samar sehingga kita tidak menyadari. Dan hendaklah kita mengingat firman Allah yang artinya
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)” (Al Baqarah 120).
