RUMAH KITA BUTUH PENGUDARAAN YANG BAIK
by: Nangkula Utaberta
Artikel ini akan berbicara tentang suatu masalah yang sangat penting bagi kenyamanan kita dalam mendiami sebuah perumahan. Masalah tersebut adalah masalah kenyamanan termal dalam suatu bangunan. Kenyamanan termal berhubungan dengan bagaimana suhu di dalam rumah sesuai dan nyaman untuk dihuni melalui pengaturan sirkulasi udara dan pengudaraan di dalam ruangan. Pembahasannya sendiri akan terbagi atas perancangan sebuah blok bangunan dalam sebuah perumahan, perancangan sebuah rumah yang mempengaruhi kenyamanan penghuninya dan pemilihan material bagi pembangunan sebuah rumah.
Perancangan Blok Bangunan
Suatu hari penulis berkesempatan berjumpa dengan seorang pejabat anggota DPR yang minta dibuatkan sebuah desain untuk tangga rumahnya. Dari diskusi tentang keadaan rumahnya sang pejabat kemudian bercerita bahwa satu-satunya tempat yang tidak ber-AC di rumahnya adalah kamar mandi.
Hal ini tentu sangat mengejutkan, jika hanya kamar mandi yang tidak ber-AC,maka semua ruangan berarti menggunakan AC. Hal ini sangat mengusik perasaan penulis sebagai seorang yang memahami masalah lingkungan hidup dan mengetahui efek negatif dari penggunaan AC terhadap lingkungan hidup. CFC sebagai bahan dasar dari AC melalui berbagai pengujian ilmiah telah terbukti mengurangi lapisan ozon den memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemanasan global. Jika setiap rumah menggunakan AC dan dihidupkan setiap hari, bias dibayangkan bagaimana kerusakan linkungan yang akan terjadi. Ini belum termasuk efek negatif dari asap kendaraan bermotor dan polusi udara oleh pabrik-pabrik.
Kita hidup di negara yang tropis, dimana ada begitu banyak angin sejuk dan tumbuhan dapat tumbuh. Hal ini merupakan suatu potensi yang sangat besar bagi kenyamanan rumah kita. Melalui sebuah perancangan yang baik (yang memungkinkan pergerakan angin yang bebas), kita akan mendapatkan suatu lingkungan yang sejuk dan nyaman tanpa harus merusak lingkungan.
Ibnu Khaldun dalam penulisannya tentang
Hal yang senada disampaikan oleh salah seorang kawan penulis Dr. H. Tetsu Kubota, seorang ahli masalah angin dalam perancangan sebuah bangunan. Dalam sebuah presentasinya Dr Tetsu ketika membandingkan perancangan perumahan di
Perancangan sebuah blok perumahan tidak boleh terlalu panjang, diperlukan jeda untuk memungkinkan pergerakan angin.
Karenanya dalam pandangan penulis, perancangan blok bangunan sebagaimana yang ada pada perancangan perumahan dewasa ini perlu diperbaiki dalam upaya mendapatkan pergerakan angin yang cukup dalam rumah.
Pada perancangan sebuah apartemen atau rumah susun, hal ini juga berlaku. Perletakkan
Perancangan sebuah apartemen atau rumah susun tidak boleh terlalu rapat karena ia akan memerangkap angin dan menyulitkan pergerakan udara.
Perancangan Sebuah Rumah
Dalam perancangan yang lebih mikro dalam upaya mendapatkan sebuah kenyaman termal yang cukup. Kita perlu memperhitungkan perancangan elemen-elemen dan masa sebuah bangunan.
Sebuah rumah dengan
Karenanya, sebagaimana yang dapat kita temukan dalam perancangan rumah oleh Frank Lloyd Wright,
Beberapa rumah yang didesain oleh Frank Lloyd Wright.
Masalah yang juga penting untuk kenyamanan suhu rumah kita adalah perancangan bukaan atau jendela dan pintu. Beruntunglah kita yang berada di
Perancangan
Pemilihan Material untuk Kenyamanan Thermal
Masalah terbesar dari perancangan rumah perumahan kita dewasa ini adalah penggunaan batako, batu dan beton sebagai bahan bangunan. Pada siang hari ketika terkena matahari dinding yang terbuat dari beton akan menyerap panas dari matahari. Panas ini akan dikeluarkan kembali di malam hari. Pada daerah beriklim dingin seperti Eropa dan Amerika, hal ini akan memberikan sebuah efek positif karena ia akan mengurangi penggunaan pemanas ruangan ketika musim dingin.Namun dalam sebuah Negara dengan iklim tropis hal ini tentu akan sangat mengganggu, karena pelepasan udara oleh dinding ini akan menyeartikelkan rumah kita akan terasa panas dan kering.
Pada perancangan rumah-rumah tradisional, masalah ini tidak kita temukan karena rumah-rumah tersebut menggunakan kayu sebagai bahan dindingnya. Penggunaan kayu ini merupakan sebuah solusi tepat terhadap kondisi alam yang demikian. Lalu mengapa kita tidak menggunakan kayu sebagai dinding kita?
Suatu hal yang sangat menarik karena di negara yang demikian kaya dengan kayu, harga kayu jauh lebih mahal dari beton. Kayu merupakan suatu bahan yang dapat ditanam kembali (reversible). Dengan sebuah pengelolaan yang baik dan efektif (tidak hanya tebang saja) kayu akan menjadi suatu bahan bangunan yang sangat sesuai dengan iklim tropis kita. Apalagi sekarang telah berkembang teknologi kayu chip dan glulam yang mengoptimalkan penggunaan serpihan dan serbuk kayu. Dengan pemilihan bahan yang sesuai ini maka diharapkan kenyamanan thermal kita dalam sebuah bangunan akan menjadi lebih baik.
Pemilihan bahan sebagai pengisi dinding sangat penting dalam menjaga kenyamanan udara di dalam rumah








April 18th, 2010 at 3:37 am
terima kasih sebelumnya atas infonya….pada kenyamanan termal di atas di bahas tentang rumah susun dan apartmen, sy ingin bertanya apakah ada perbedaan kenyamanan termal pada lantai bagian atas dan lantai bagian bawah pada rumah susun …kalau ada apakah bukaan jendela harus berbeda juga…terima kasih…kalau ada kajiannnya tentang jarak antar massa dan tinggi bangunan yang di bahas di atas boleh di bagi pak…?
Komentar
Prinsipnya, kenyamanan thermal akan tercipta ketika kita bisa memasukkan aliran angin alami ke dalam bangunan termasuk rumah susun. Prinsip aliran angin haruslah dihapal di luar kepala bahwa ia mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, atau dari area yang bersuhu dingin ke suhu panas. Nah, dengan prinsip ini kita desain suatu bangunan bagaimana di siang hari kita maksimalkan angin alami ke dalam bangunan untuk menyejukkan suhu dalam bangunan yang panas, dan bagaimana kita minimalisir angin masuk ke dalam bangunan agar kehangatan di malam hari tercipta. Ada 3 saran yang bisa diberikan untuk sementara dalam suatu bangunan rumah susun khususnya di indonesia yang beriklim tropis ialah penggunaan jendela yang bisa dibuka tutup. Dengan penggunaan jendela semacam ini, ketika siang hari penghuni bisa membuka jendela untuk memasukkan aliran angin dan ketika malam hari dimana membutuhkan kehangatan, jendela ditutup untuk menolak angin masuk. Kedua, Penggunaan teras yang menghadap ke luar bangunan atau lebih tepatnya ke tempat arah datangnya matahari. Hal ini penting sebagai transisi panas dari sinar matahari langsung sehingga tidak langsung menyentuh dinding unit hunian. Andaikan tanpa teras, tentunya tidak akan ada transisi sehingga sinar matahari langsung mengenai dinding unit hunian yang akan mengurangi kesejukan di dalam ruangan meski jendela telah dibuka lebar. Ketiga, Bangunan rumah susun jangan dibuat dempet dengan bangunan lain di sekitarnya. Idealnya jarak bangunan rusun dengan bangunan lain adalah sama besarnya dengan tinggi rusun. Jadi, misalnya rusun tingginya 6 meter maka jarak antar bangunan rusun dengan bangunan yang lain adalah 6 meter juga. Hanya saja untuk saran yang ketiga ini amatlah sulit terutama di kota metropolitan ini. Hal ini karena tidak diteruskannya perkembangan pembangunan di luar kota metropolitan sehingga tumpek blek warga di kota surabaya sedang lahan sudah semakin sempit. Ini perlu pembenahan!!! Meski demikian, saran yang ketiga tetaplah dijalankan meski tidak bisa total, setidaknya ada 4 meter antara bangunan atau badan jalan (kalau lahan berbatasan dengan badan jalan) dengan asumsi 1 meter untuk tanaman perdu, 2 meter untuk pedestrian, 1 meter lagi untuk tanaman perdu rendah 80 cm sebagai transisi pedestrian dengan bangunan rusun. Demikian yang bisa kami jelaskan.. Insya Allah tulisan tentang thermal yang lebih lengkap akan kami buat dalam waktu dekat.