Jangan lihat siapa yang bicara, lihatlah apa yang dibawa oleh pemahamannya.

Archirevo

RUMAH KITA BUTUH PENGUDARAAN YANG BAIK

April 17th, 2009 by Rohman


 by: Nangkula Utaberta

gambar-1.bmp

Artikel ini akan berbicara tentang suatu masalah yang sangat penting bagi kenyamanan kita dalam mendiami sebuah perumahan. Masalah tersebut adalah masalah kenyamanan termal dalam suatu bangunan. Kenyamanan termal berhubungan dengan bagaimana suhu di dalam rumah sesuai dan nyaman untuk dihuni melalui pengaturan sirkulasi udara dan pengudaraan di dalam ruangan. Pembahasannya sendiri akan terbagi atas perancangan sebuah blok bangunan dalam sebuah perumahan, perancangan sebuah rumah yang mempengaruhi kenyamanan penghuninya dan pemilihan material bagi pembangunan sebuah rumah.

 

Perancangan Blok Bangunan

Suatu hari penulis berkesempatan berjumpa dengan seorang pejabat anggota DPR yang minta dibuatkan sebuah desain untuk tangga rumahnya. Dari diskusi tentang keadaan rumahnya sang pejabat kemudian bercerita bahwa satu-satunya tempat yang tidak ber-AC di rumahnya adalah kamar mandi.

 

Hal ini tentu sangat mengejutkan, jika hanya kamar mandi yang tidak ber-AC,maka semua ruangan berarti menggunakan AC. Hal ini sangat mengusik perasaan penulis sebagai seorang yang memahami masalah lingkungan hidup dan mengetahui efek negatif dari penggunaan AC terhadap lingkungan hidup. CFC sebagai bahan dasar dari AC melalui berbagai pengujian ilmiah telah terbukti mengurangi lapisan ozon den memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemanasan global. Jika setiap rumah menggunakan AC dan dihidupkan setiap hari, bias dibayangkan bagaimana kerusakan linkungan yang akan terjadi. Ini belum termasuk efek negatif dari asap kendaraan bermotor dan polusi udara oleh pabrik-pabrik.

 

Kita hidup di negara yang tropis, dimana ada begitu banyak angin sejuk dan tumbuhan dapat tumbuh. Hal ini merupakan suatu potensi yang sangat besar bagi kenyamanan rumah kita. Melalui sebuah perancangan yang baik (yang memungkinkan pergerakan angin yang bebas), kita akan mendapatkan suatu lingkungan yang sejuk dan nyaman tanpa harus merusak lingkungan. 

 

Ibnu Khaldun dalam penulisannya tentang kota Muslim yang ideal menyatakan bahwa salah satu syarat utama dari kota Muslim yang ideal adalah adanya pergerakan angin yang bebas dan tidek terperangkap antara bangunan. Dengan pergerakan angina yang bebas ini menurut beliau suatu kota akan menjadi suatu kota yang bersih dan nyaman.

 

Hal yang senada disampaikan oleh salah seorang kawan penulis Dr. H. Tetsu Kubota, seorang ahli masalah angin dalam perancangan sebuah bangunan. Dalam sebuah presentasinya Dr Tetsu ketika membandingkan perancangan perumahan di Tokyo dengan perancangan yang ada di beberapa kota di asia Tenggara menyayangkan pembangunan blok-blok perumahan yang dibuat begitu panjang tanpa jeda dengan menggunakan system grid. Menurut beliau suatu deret perumahan lebih dari 5 rumah atau lebih dari 25 meter akan sangat menyulitkan angin untuk bergerak diantara bangunan. Bangunan yang ada di tengah akan kesulitan untuk mendapatkan aliran angin yang cukup.

 

gambar-2.bmp

Perancangan sebuah blok perumahan tidak boleh terlalu panjang, diperlukan jeda untuk memungkinkan pergerakan angin.

 

Karenanya dalam pandangan penulis, perancangan blok bangunan sebagaimana yang ada pada perancangan perumahan dewasa ini perlu diperbaiki dalam upaya mendapatkan pergerakan angin yang cukup dalam rumah.

 

Pada perancangan sebuah apartemen atau rumah susun, hal ini juga berlaku. Perletakkan massa bangunan yang terlalu rapat akan menyeartikelkan udara terperangkap diantara bangunan tinggi. Jika apartemen atau rumah susun tadi terlalu tinggi maka udara yang ada akan justru menghasilkan suatu turbulansi angin yang sangat besar di permukaan tanah dan lantai-lantai yang tinggi. Karenanya sebagaimana perancangan sebuah perumahan maka perancangan sebuah apartemen dan rumah susun pun memerlukan sebuah kajian yang cukup tentang jarak antar massa dan tinggi bangunan.

 

gambar-3.bmp

Perancangan sebuah apartemen atau rumah susun tidak boleh terlalu rapat karena ia akan memerangkap angin dan menyulitkan pergerakan udara.

 

Perancangan Sebuah Rumah

Dalam perancangan yang lebih mikro dalam upaya mendapatkan sebuah kenyaman termal yang cukup. Kita perlu memperhitungkan perancangan elemen-elemen dan masa sebuah bangunan.

 

Sebuah rumah dengan massa yang terlalu besar dan masif akan mendapatkan sebuah masalah serius dengan pengudaraan. Kamar atau ruang rumah yang ada di tengah-tengah bangunan akan terasa sangat panas dan pengap. Penggunaan exhaust fan atau kipas angin seringkali tidak banyak menolong masalah ini. Jika ruang tersebut adalah kamar tidur maka ruang tersebut akan terasa panas dan tidak nyaman untuk dihuni. Keadaan akan bertambah parah jika ruang tersebut adalah kamar mandi, karena ia akan menjadi lemartikel dan dapat menjadi sarang penyakit. Hal yang sama akan terjadi jika ruang tersebut adalah dapur, ia akan menjadi lemartikel dan bau masakan akan memenuhi seluruh isi rumah ketika kita memasak.

 

Karenanya, sebagaimana yang dapat kita temukan dalam perancangan rumah oleh Frank Lloyd Wright, massa bangunan perlu dipecahkan atas beberapa bagian. Jika hal ini tidak memungkinkan maka di tengah-tengah masa bangunan perlu dibuat sebuah ruang terbuka atau taman. Hal ini penting agar supaya udara dapat bergerak dengan leluasa dan tidak terperangkap di tengah-tengah bangunan (lihat ilustrasi berikut).

 

gambar-4.bmp       gambar-5.bmp

gambar-6.bmp

Beberapa rumah yang didesain oleh Frank Lloyd Wright. Massa bangunan dipecahkan atas beberapa bagian dan diintegrasikan dengan alam sekitar sehingga memudahkan sirkulasi udara.

 

Masalah yang juga penting untuk kenyamanan suhu rumah kita adalah perancangan bukaan atau jendela dan pintu. Beruntunglah kita yang berada di Indonesia, karena tenaga manusia masih murah sehingga kusen rumah kita dapat dibuat sekehendak hati kita. Pada beberapa Negara seperti Malaysia yang tenaga manusianya mahal maka perancangan dan desain kusen harus dibuat standar sehingga dapat dibuat dalam jumlah banyak oleh mesin. Karena dibuat standar maka seringkali pada kusen kita tidak menemui kisi-kisi atau jendela yang memadai untuk sirkulasi angin.

 

gambar-7.bmp

Perancangan massa bangunan dan penempatan ruang terbuka dan taman-taman memungkinkan pergerakan udara yang lebih baik di dalam rumah.

 

Pemilihan Material untuk Kenyamanan Thermal

Masalah terbesar dari perancangan rumah perumahan kita dewasa ini adalah penggunaan batako, batu dan beton sebagai bahan bangunan. Pada siang hari ketika terkena matahari dinding yang terbuat dari beton akan menyerap panas dari matahari. Panas ini akan dikeluarkan kembali di malam hari. Pada daerah beriklim dingin seperti Eropa dan Amerika, hal ini akan memberikan sebuah efek positif karena ia akan mengurangi penggunaan pemanas ruangan ketika musim dingin.Namun dalam sebuah Negara dengan iklim tropis hal ini tentu akan sangat mengganggu, karena pelepasan udara oleh dinding ini akan menyeartikelkan rumah kita akan terasa panas dan kering.

 

Pada perancangan rumah-rumah tradisional, masalah ini tidak kita temukan karena rumah-rumah tersebut menggunakan kayu sebagai bahan dindingnya. Penggunaan kayu ini merupakan sebuah solusi tepat terhadap kondisi alam yang demikian. Lalu mengapa kita tidak menggunakan kayu sebagai dinding kita?

 

Suatu hal yang sangat menarik karena di negara yang demikian kaya dengan kayu, harga kayu jauh lebih mahal dari beton. Kayu merupakan suatu bahan yang dapat ditanam kembali (reversible). Dengan sebuah pengelolaan yang baik dan efektif (tidak hanya tebang saja) kayu akan menjadi suatu bahan bangunan yang sangat sesuai dengan  iklim tropis kita. Apalagi sekarang telah berkembang teknologi kayu chip dan glulam yang mengoptimalkan penggunaan serpihan dan serbuk kayu. Dengan pemilihan bahan yang sesuai ini maka diharapkan kenyamanan thermal kita dalam sebuah bangunan akan menjadi lebih baik.

 

gambar-8.bmp

Pemilihan bahan sebagai pengisi dinding sangat penting dalam menjaga kenyamanan udara di dalam rumah

Filed under artikel having

One Response

  1. kamil Says:

    terima kasih sebelumnya atas infonya….pada kenyamanan termal di atas di bahas tentang rumah susun dan apartmen, sy ingin bertanya apakah ada perbedaan kenyamanan termal pada lantai bagian atas dan lantai bagian bawah pada rumah susun …kalau ada apakah bukaan jendela harus berbeda juga…terima kasih…kalau ada kajiannnya tentang jarak antar massa dan tinggi bangunan yang di bahas di atas boleh di bagi pak…?
    Komentar

    Prinsipnya, kenyamanan thermal akan tercipta ketika kita bisa memasukkan aliran angin alami ke dalam bangunan termasuk rumah susun. Prinsip aliran angin haruslah dihapal di luar kepala bahwa ia mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, atau dari area yang bersuhu dingin ke suhu panas. Nah, dengan prinsip ini kita desain suatu bangunan bagaimana di siang hari kita maksimalkan angin alami ke dalam bangunan untuk menyejukkan suhu dalam bangunan yang panas, dan bagaimana kita minimalisir angin masuk ke dalam bangunan agar kehangatan di malam hari tercipta. Ada 3 saran yang bisa diberikan untuk sementara dalam suatu bangunan rumah susun khususnya di indonesia yang beriklim tropis ialah penggunaan jendela yang bisa dibuka tutup. Dengan penggunaan jendela semacam ini, ketika siang hari penghuni bisa membuka jendela untuk memasukkan aliran angin dan ketika malam hari dimana membutuhkan kehangatan, jendela ditutup untuk menolak angin masuk. Kedua, Penggunaan teras yang menghadap ke luar bangunan atau lebih tepatnya ke tempat arah datangnya matahari. Hal ini penting sebagai transisi panas dari sinar matahari langsung sehingga tidak langsung menyentuh dinding unit hunian. Andaikan tanpa teras, tentunya tidak akan ada transisi sehingga sinar matahari langsung mengenai dinding unit hunian yang akan mengurangi kesejukan di dalam ruangan meski jendela telah dibuka lebar. Ketiga, Bangunan rumah susun jangan dibuat dempet dengan bangunan lain di sekitarnya. Idealnya jarak bangunan rusun dengan bangunan lain adalah sama besarnya dengan tinggi rusun. Jadi, misalnya rusun tingginya 6 meter maka jarak antar bangunan rusun dengan bangunan yang lain adalah 6 meter juga. Hanya saja untuk saran yang ketiga ini amatlah sulit terutama di kota metropolitan ini. Hal ini karena tidak diteruskannya perkembangan pembangunan di luar kota metropolitan sehingga tumpek blek warga di kota surabaya sedang lahan sudah semakin sempit. Ini perlu pembenahan!!! Meski demikian, saran yang ketiga tetaplah dijalankan meski tidak bisa total, setidaknya ada 4 meter antara bangunan atau badan jalan (kalau lahan berbatasan dengan badan jalan) dengan asumsi 1 meter untuk tanaman perdu, 2 meter untuk pedestrian, 1 meter lagi untuk tanaman perdu rendah 80 cm sebagai transisi pedestrian dengan bangunan rusun. Demikian yang bisa kami jelaskan.. Insya Allah tulisan tentang thermal yang lebih lengkap akan kami buat dalam waktu dekat.

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.