Jangan lihat siapa yang bicara, lihatlah apa yang dibawa oleh pemahamannya.

Archirevo

PORNO

September 3rd, 2008 by Rohman

baytobreakers.jpg

Akal adalah sebuah anugrah yang besar dari Allah sang Pencipta. Akal akan menjadi sebuah kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar jika agama digunakan sebagai penjaganya.  Namun, akal menjadi sebuah senjata perusak yang terampuh bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar jika nafsu digunakan sebagai penjaganya.

Dalam berarsitektur, kita dituntut untuk senantiasa kreatif dalam menampilkan bangunan yang bertema khas, kenyamanan yang tinggi dan keindahan yang tiada tara. Dalam persoalan keindahan – atau estetika dalam istilah arsitektur – kita diberikan kebebasan dalam mempersepsikannya. Tidak ada aturan baku di dalam dunia keilmuan arsitektur tentang apakah itu Indah? Apakah itu Estetik? Akibatnya, kebebasan dalam membentuk fasad bangunan beserta tapaknya dengan berbagai pola bentukan untuk menampilkan suatu bangunan yang indah menjadi realitas di dunia arsitek. Andaikan ada seratus orang arsitek merancang sebuah rumah dengan ukuran lahan yang sama, maka akan ada seratus model rumah yang menurut arsiteknya indah, estetik sesuai dengan persepsinya masing-masing. Kebebasan inilah yang terus dihembuskan kepada pemikiran para arsitek. Sebuah kebebasan tanpa batas, meski batasan agama sekalipun.

Kerusakan akibat kebebasan tanpa batas

Foto di atas adalah sebuah gedung sepak bola yang diakui oleh perancangnya sebagai bentuk ekspresi keindahan vagina seorang perempuan. Persepsi keindahan itu, dituangkan ke dalam perancangan arsitektur ini sebagaimana terlihat di foto. Sebuah fantasi kepornoan yang semula hanya sekedar fantasi, namun benar-benar nyata ketika dituangkan dalam kegiatan merancang. Bisa kita bayangkan jika fasad bangunan saja seperti ini, apalagi perancangan interiornya, tentunya akan bertemakan sama dengan eksteriornya.

vagina.jpegBerkenaan dengan interior, tentunya juga berkaitan pula dengan furniture. Foto di samping adalah sebuah sofa yang perancangnya pun juga terinspirasi dari bentukan vagina perempuan. Tidak ada yang diharapkan dari sang perancang selain ia ingin fantasinya tertuang di dunia nyata sekaligus ingin agar orang lain pun memiliki dan merasakan fantasi yang ia miliki. Sebuah fantasi merusak yang hanya dimiliki oleh seorang yang dipenuhi fantasi-fantasi kotor di dalam otaknya.

Bisa kita bayangkan, jika sofa-sofa seperti ini beredar di semua kalangan masyarakat, tentunya persepsi porno akan terus menguat sehingga membutuhkan tuntutan. Bila yang memerlukan tuntutan pemuasan syahwat makin meluas dan tak terbendung – dan pintu perzinahan dilegalkan oleh pemerintah bahkan difasilitasi – maka perzinahan ala binatang akan bertebaran dimana-mana.

Inilah realitas yang kini terjadi di dunia yang sekarang kita hirup udaranya. Hawa-hawa rusak yang terus dihembuskan untuk mengikis sedikit demi sedikit akal dan hati kita yang suci untuk digantikan dengan akal dan hati yang najis. Lalu, apakah kita terus menerus diam?

Ketika Hawa Nafsu Sebagai Standar

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu(Al Mu’minun 71)

Ketika kebebasan menjadi pola pikir seorang arsitek maka agama tidak lagi dianggap sebagai pengikat. Ketika agama tidak lagi menjadi pengikat maka otomatis nafsulah yang mengendalikan. Ketika nafsu yang mengendalikan maka jangan berharap kebaikan di dalamnya. Kita sering kali mendengar di dunia perkuliahan arsitektur, bahwa masing-masing arsitek memiliki sudut pandang yang berbeda. Dalih ini sering kali dipakai dan didengung-dengungkan seolah-olah dalih ini menjadi dalil bagi setiap arsitek – termasuk yang muslim – mengalahkan dalil Sang Maha Arsitek.  Hasilnya jelas yakni RUSAK.

Contoh kasus di atas hanyalah sebagian dari seabrek kasus berkenaan dengan perancangan arsitektur yang seringkali mengekploitasi sisi-sisi yang membangkitkan birahi. Maka tidaklah khayal jikalau persepsi pornografi terus-menerus menyelimuti persepsi kebanyakan masyarakat. Dan maka tidak khayal jikalau jumlah perzinahan dari yang legal maupun yang illegal terus menaik hingga tak ada satu hari pun kecuali di hari itu terdapat berita persoalan zina dan zina. Sungguh mengerikan!

Sebuah Kebebasan Yang Terkontrol

Memang benar, kreativitas perlu dikembangkan. Memang benar, arsitek perlu diberi ruang kebebasan dalam merancang. Namun, adalah salah jika ada anggapan ruang kebebasan itu tanpa batas. Batasannya sudahlah jelas yakni Islam. Hal ini karena memang

1.       Sebagai seorang muslim, ia harus menjalankan agamanya sebagai konsekuensi keimanannya

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (An Nisa 65)

2.       Telah jelas bahwa rahmat dan kebaikan Islam yang diturunkan lewat tangan Rasulullah tidak hanya diperuntukkan bagi muslim tapi juga yang non muslim

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Al Anbiya’ 107)

3.       Telah jelas kerusakan di dunia di berbagai bidang termasuk di dunia arsitektur ketika Islam tidak lagi menjadi pedoman. Hal ini terbukti secara faktual dan secara Qur’ani

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar Rum 41)

Sudahlah cukup kita terombang-ambing di dalam perdebatan teori arsitektur yang menjemukan namun tidak memberikan faedah yang banyak bagi masyarakat kecuali sedikit. Sudahlah cukup kita terombang-ambing mencari keindahan sejati seraya meninggalkan ajaran Tuhan Sang Arsitek Dunia Yang Indah ini. Sudahlah cukup kita terombang-ambing dalam menentukan prinsip arsitektural manakah yang harus kita pilih.

Yang harus kita lakukan sebagai seorang arsitek – terutama yang muslim – cukuplah Islam saja yang menjadi prinsip PATEN yang tidak bisa diganti-ganti. Sedangkan prinsip-prinsip arsitektural yang lain yang kita dapatkan dari perkuliahan dan media-media lainnya kita gunakan selama tidak melanggar prinsip PATEN itu.

Silahkan kita memilih postmodern sebagai prinsip arsitektural, prinsip modern sebagai prinsip arsitektural, prinsip neomodern sebagai prinsip arsitektural atau lainnya asalkan setelah kita teliti tidak ada  pelanggarannya terhadap dinul Islam. Inilah prinsip yang mesti kita miliki semua. Wallahu alam bisshawab.

Filed under Uncategorized having

One Response

  1. irsyad Says:

    good..
    ..cuma teks kutipan Alqur’an nya kok kecil banget ya man..?

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.