Jangan lihat siapa yang bicara, lihatlah apa yang dibawa oleh pemahamannya.

Archirevo

Restoran Porno

August 16th, 2008 by Rohman

rumah-porno.JPG

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah 120)

Ayat ini meniscayakan permusuhan abadi antara kaum nasrani dan yahudi dengan kaum muslim. Takkan selesai permusuhan ini kecuali kaum yahudi dan nasrani meninggalkan agama mereka. Permusuhan ini akan diwujudkan dalam berbagai cara semampu mereka. Permusuhan ini memiliki target yakni mengembalikan kaum muslim meninggalkan agamanya. Dengan target yang seperti ini, segala aturan Islam dicemoohnya, dipelintir, dihujat dan sebagainya. Agar cemoohan, pelintiran, hujatan pada agama Islam diterima kaum muslim, tentulah perlu dibungkus dengan rapi dan indah. Tidak berhenti pada hujatan dan semacamnya terhadap Islam, budaya Barat yang tidak bermoral pun disuguhkan sebagai pengganti alternatif budaya Islam. Agar diterima, lagi-lagi penyuguhan budaya Barat dikemas dengan rapi dan indah. 

Realitas di atas, juga terjadi di Arsitektur. Adalah restoran di kota Djion, sekitar 2 jam ke arah Selatan Paris Perancis. menjaja makanan khas Spanyol: Nasi paela, sejenis nasi kuning yang dicampur dengan beragam makanan laut: udang, cumi, kerang dan bekicot laut. Menurut rekan kami yang pernah ke sana (www.pangaraudy.com) makanan itu sangat Asia, kaya rempah, gurih dan lezat.Restoran ini didesain sederhana tapi indah. Hanya saja nuansa Budaya Barat yang tidak punya malu amat kental dirasakan. Hal ini karena penataan langit-langit restoran tersebut ditata dengan menggantungkan pakaian-pakaian dalam di atas seutas tali layaknya jemuran. Sebagai seorang desainer, kita memahami bahwa setiap benda akan mempersepsikan sesuatu. Apapun yang kita desain, jangankan benda, pemilihan warna saja mampu memberikan kesan tertentu. Pakaian dalam, siapapun yang melihat – dari level yang paling bodoh sekalipun – memahami bahwa pakaian dalam mempersepsikan terhadap sesuatu yang paling vital dari tubuh manusia yakni alat kelamin. Hal ini akan memberikan persepsi porno di dalam pikiran manusia yang melihatnya. Inilah tujuan dari sang pemilik dan sang desainer restoran ini.

Budaya Malu

Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah saw. Pernah bersabda (yang artinya): Sesungguhnya di antara kalahm nubuwwah (ungkapan kenabian) yang disampaikan kepada manusia adalah, “jika kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!”(HR al Bukhari)

Ibn Hajar, terkait dengan syarah (komentar) atas hadist ini, menyatakan antara lain:pertama, kallam nubuwwah bermakna apa saja yang disepakati para nabi, yakni yang biasa diperintahkan oleh mereka (kepada manusia, pen) yang tidak dihapus bersamaan dengan dihapusnya syariah mereka, karena memang perintah tersebtu dibebankan kepada setiap akal manusia (dimanapun dan pada zaman kapanpun,pen). Kedua, berbuatlah sesukamu adalah kalimat perintah yang mengandung konotasi berita, yakni berupa ancaman. Kalimat tersebut antara lain bermakna: “Berbuatlah sesukamu karena pasti Allah akan membalasmu” (Ibn Hajar, Fath al-Bari,XVII/303)Islam mengajarkan rasa malu.

Salah satu bentuk rasa malu adalah menjaga auratnya terutama yang paling vital dari tubuhnya. Namun, restoran ini menerjang saja aturan baku Islam ini. Dengan tanpa malu-malu, pakaian dalam begitu jelasnya digantung melintang di atas meja makan. Sungguh memalukan dan menjijikkan. Jika ada yang bertanya, apa maksud dari desain ini? JELAS. Ingin merusak aturan baku yang menjaga MORAL MANUSIA diganti dengan BUDAYA TAK PUNYA MALU. Coba kita bayangkan, jika desain tak punya malu ini menjadi trend dalam desain restoran, maka budaya tak punya malu dalam dunia desain menyebar secara luas.

Jika kita bertanya, mengapa desain tak punya malu ini bisa muncul di Prancis dan diterima oleh masyarakat? Tentu kita mampu menduga dengan dugaan yang kuat bahwa memang masyarakat Prancis sudah terbiasa dengan budaya yang tak lagi memandang malu. Maka bisa dikatakan, bahwa restoran ini adalah refleksi/gambaran dari masyarakat di Prancis. Inilah refleksi masyarakat yang tak lagi diatur secara Islami. Segala hal-hal yang tidak logis bisa saja terjadi. Mungkin kini adalah pakaian dalam, kemungkinan besar nantinya kondom pun bisa menjadi penghias interior. Sungguh realitas yang menyedihkan!!

Jika kita berkaca pada masyarakat kita – masyarakat Indonesia – sebenarnya hampir sama sebab agama tidak lagi menjadi pedoman. Hal ini karena masyarakat Indonesia secara umum masih belum menjadikan agama sebagai pedoman. Ketika agama tidak lagi menjadi pedoman, maka hawa nafsulah yang menjadi tuan. Dan ketika hawa nafsu menjadi pedoman, maka hancurlah dunia ini. Hal ini sesuai dengan ayat Allah yang artinya

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu” (Al Mu’minun 71)

Khatimah

Peradaban adalah realitas dari masyarakatnya. Masyarakat adalah realitas dari system pemerintahannya. Oleh karena itu, ketika system pemerintahan tidak lagi menjadikan agama sebagai pedoman, maka hawa nafsulah yang menjadi tuan. Akibatnya, masyarakat pun banyak yang berpedoman hawa nafsu, dan nantinya bakal menghasilkan peradaban yang tak punya malu. Dan restoran yang ada di Prancis ini adalah salah satu contohnya. Bagaimana dengan Indonesia? Sama. Sedikit demi sedikit masyarakat Indonesia termasuk arsiteknya akan mengambil budaya Barat. Hal ini karena sistem pemerintahan Indonesia masih sekuler dan juga memang sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang selalu suka meniru, menjiplak budaya luar. Lalu, apakah kita tetap diam melihat hal ini??

One Response

  1. Waskita Says:

    Wah, risih banget kalau makan di restoran macam itu

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.