Dalam perkuliahan Teori Arsitektur, seorang dosen yang telah bergelar professor pernah menjelaskan pengetahuan berkenaan Konteks di dalam Arsitektur. Sekedar menyegarkan ingatan, yang dimaksud dengan Konteks adalah ‘lingkungan’ yang dijadikan tempat bagi/dalam membincangkan sesuatu pandangan/pemikiran. Konteks bisa memiliki penafsiran yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh banyak faktor, yang semuanya benar. Sebagai contoh: arsitektur, bisa bermakna wadah atas kegiatan manusia, jelek tapi bagus, dan sebagainya. Semua pengertian tentang arsitektur di atas adalah benar, tidak ada yang salah. Agar pembahasan tentang konteks ini lebih mudah dipahami, maka profesor tersebut mengambil beberapa studi kasus yang beliau rasa mewakili Konteks ini dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya: ponari, soal ujian, dan dosa.
Arsitektur dengan definisinya sebagai ilmu tata bangunan demi pemenuhan kebutuhan manusia adalah pengertian universal bagi semua. Siapapun bisa menggunakannya, apapun agamanya apapun ideologinya. Meski demikian, nilai-nilai tertentu bisa mampu mewarnai pengertian umum dari arsitektur ini sehingga tidak bebas nilai. Disinilah letak pentingnya kita tahu seperti apakah peradaban Islam dalam mewarnai arsitektur untuk kita gunakan dan banggakan. Dan disinilah letak pentingnya kita tahu seperti apakah peradaban Barat agar kita menjauhinya bahkan membuangnya.
Artikel ini akan berbicara tentang suatu masalah yang sangat penting bagi kenyamanan kita dalam mendiami sebuah perumahan. Masalah tersebut adalah masalah kenyamanan termal dalam suatu bangunan. Kenyamanan termal berhubungan dengan bagaimana suhu di dalam rumah sesuai dan nyaman untuk dihuni melalui pengaturan sirkulasi udara dan pengudaraan di dalam ruangan. Pembahasannya sendiri akan terbagi atas perancangan sebuah blok bangunan dalam sebuah perumahan, perancangan sebuah rumah yang mempengaruhi kenyamanan penghuninya dan pemilihan material bagi pembangunan sebuah rumah.
Arsitektur adalah ilmu tata bangunan dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Dengan definisi berikut, realitas fungsi arsitektur adalah kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Dalam tulisan ini, penulis akan berusaha menyampaikan realitas praktis sesungguhnya fungsi arsitektur yang tidak pernah diungkap oleh arsitek manapun. Read the rest of this entry »
Di antara polemic di dalam ranah arsitektur adalah definisi arsitektur itu sendiri. Banyak sudut pandang dalam mendefinisikannya, sehingga kita mendapati berbagai macam definisi arsitektur. Saking banyaknya, tidak jarang mahasiswa atau siapapun yang mencoba mempelajari arsitektur bingung. Selain kebingungan itu, banyaknya ragam definisi yang satu sama lain bahkan saling bertolak belakang berimplikasi pada penilaian pada bangunan. Dalam satu objek bangunan saja – akibat banyaknya sudut pandang – menimbulkan penafsiran yang berbeda – ada yang mengatakan bangunan berarsitektur indah, yang lain mengatakan tidak layak sebagai bangunan arsitektur.
Dewasa ini banyak pembangunan masjid dengan ukuran yang besar, berskala monumental dengan ornamentasi dan hiasan-hiasan yang mahal serta bergaya Timur Tengah. Ide dan perancangan seperti ini biasanya berakar dari pemahaman sang arsitek terhadap ide masjid sebagai rumah Tuhan. Ide masjid sebagai rumah Tuhan berusaha memposisikan masjid sebagai tempat beribadah, berkontemplasi dan tempat bertemunya seorang hamba dengan Tuhannya. Artikel ini akan berusaha menjelaskan apa sebenarnya konsep rumah Tuhan dan bagaimana implikasinya terhadap perancangan sebuah masjid disamping berusaha memberikan tentang fungsi dan peranan dari masjid pada masyarakat Muslim di jaman Nabi Muhammad SAW.
Setiap tahunnya kebutuhan akan rumah di Indonesia mencapai 4-5 juta rumah, sementara kemampuan pihak pemerintah maupun swasta untuk memenuhinya kurang dari lima ratus ribu per tahun. Itulah sebabnya kemudian dikeluarkan berbagai program rumah murah dalam bentuk perumnas dan rumah susun bagi masyarakat ekonomi lemah. Namun sayangnya usaha pemenuhan kebutuhan akan perumahan, baik yang dilakukan oleh pemerintah melalui proyek rumah susun dan RSS-nya atau pihak swasta dengan berbagai inovasi perumahannya seringkali mengabaikan beberapa kebutuhan mendasar yang sangat penting terutama bagi keselamatan anak-anak kita. Tulisan ini merupakan suatu bentuk keprihatinan penulis akan kurangnya perhatian dari para arsitek, kontraktor maupun para pengambil kebijakan dalam memperhatikan masalah keselamatan anak, sekaligus sebuah peringatan kepada para orang tua sebagai bagian dari konsumen produk pihak-pihak tersebut agar lebih hati-hati dalam memilih produk rumah yang akan mereka gunakan. Ada dua masalah utama yang akan coba penulis kemukakan berkaitan dengan masalah keselamatan dalam perumahan kita dewasa ini. Yang pertama adalah kurang diperhatikannya pengaman pada bangunan perumahan (rumah susun atau apartemen) yang dirancang bertingkat sehingga banyak menimbulkan kecelakaan (terutama pada anak-anak) dan masalah perancangan perumahan dengan penyusunan rumah serta pola jalan yang membahayakan keselamatan anak-anak kita.
Hak cipta. Kata-kata yang seringkali kita dengar ketika berbicara dengan persoalan produksi sesuatu. Produksi ini salah satunya adalah produksi desain. Berbagai fakta telah disodorkan pada kita betapa banyak orang-orang memberikan tuduhan kepada pihak lain sebagai tersangka plagiat, pembajak bahkan mungkin pencuri ide kreatif dengan tameng hak cipta, yang dengannya pihak tertuduh itu bisa disangsi secara hukum. Banyak alasan yang dikemukan pentingnya hak cipta ditegakkan. Ada yang berasalan bahwa dengan hak cipta seseorang tidak dirugikan karena idenya telah dicuri oleh yang lain. Ada juga yang beralasan bahwa tiadanya hak cipta menjadikan orang-orang suka mengcopy ide kreatif orang lain tanpa pernah berusaha sendiri memunculkan ide kreatifnya. Tapi, apakah benar alasan-alasan yang dikemukakan itu? Lalu, apa sebenarnya hak cipta itu? Dari mana asal muasalnya? Bagaimana Islam memandangnya? Inilah yang perlu diulas.
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk, atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk…” (QS. Al-Baqarah [2]: 26)
Seperti halnya nyamuk dan lalat, laba-laba seringkali dianggap sebagai makhluk yang tidak penting dan merugikan. Namun, di dalam ayat di atas Allah SWT menyatakan diri-Nya tiada segan membuat perumpamaan dengan binatang-binatang yang kita anggap remeh itu, karena bagi orang-orang beriman, mereka meyakini bahwa kebenaran adalah milik Allah SWT. Sebesar atau sekecil apapun kebenaran itu, tetaplah akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan kesempurnaan ciptaan Allah SWT. Di balik makhluk-makhluk kecil itu, terdapat pelajaran dan hikmah yang besar bagi manusia, agar menyadari dan menjalankan tujuan penciptaannya di muka bumi, yaitu sebagi khalifah sekaligus sebagi hamba Allah SWT. Read the rest of this entry »
Akal adalah sebuah anugrah yang besar dari Allah sang Pencipta. Akal akan menjadi sebuah kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar jika agama digunakan sebagai penjaganya.Namun, akal menjadi sebuah senjata perusak yang terampuh bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar jika nafsu digunakan sebagai penjaganya.